Minggu, 08 Juni 2014

10 ORANG SUKSES DIINDONESIA TANPA SEKOLAH & IJAZAH

Sebuah gelar sarjana atau profesor mungkin adalah hal wajib yang dimiliki oleh seorang yang ingin sukses dan berpenghasilan besar. Akan tetapi tidak selamanya gelar itu menjamin seseorang itu sukses. Ada beberapa orang yang mampu sukses tanpa memiliki gelar, seperti 10 orang dibawah ini.


Adam Malik

Adam Malik - praswck
Siapa yang tidak kenal beliau. Beliau ternyata tidak pernah menyentuh bangku sekolahan.

 
Abdullah Gymnastiar

Abdullah Gymnastiar - praswck
Sukses menjadi kiayi dan wirausahawan tanpa ijazah. Walaupun sudah lulus, tapi ijazahnya belum diambil hingga saat ini.

 
Andrie Wongso

Andrie Wongso - praswck
Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil dan remajanya dilalui dengan membantu orangtuanya.

 
Buya Hamka

Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Hamka mendapat pendidikan di Sekolah Dasar Maninjau hingga kelas dua.

 
Hendy Setiono

Hendy Setiono - praswck
Kini bisnisnya, Kebab Baba Rafi berkembang pesat dengan menu makanan utama kebab serta santapan ala koboi (burger serta hotdog).

 
M. H. Ainun Najib
Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Selebihnya Beliau jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi).

 
Ajip Rosid

Ajip Rosidi - praswck
Dia menolak ikut ujian karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah. Dia yang tidak memiliki ijazah SMA , pada usia 29 tahun diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun.

 
Purdi E Chandra

Purdi E Chandra - praswck
Kuliah di 4 jurusan yang berbeda. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan hingga akhirnya dia nekad meninggalkan kuliahnya. Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk ke Museum Rekor Indonesia (MURI)

 
Bob Sadino

Bob Sadino - praswck
Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

 
Andy F. Noya

Andy S Noya - praswck

Pimpinan redaksi Metro TV ini belum lulus sarjana. sejak kecil dia merasa jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuatnya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidupnya.

Minggu, 01 Juni 2014

catatanku

Ini masih cerita tentang Pemilu ya. Siapa presiden yang akan dipilih oleh orang-orang kecil di sekitarmu pada Pilpres 2014? Saya akan menceritakan pilihan Presiden orang-orang kecil yang berinteraksi dengan saya. Orang-orang kecil yang saya maksud adalah loper koran langganan, tukang antar gas, penjual tahu keliling, dan pramukantor (office boy). Menarik juga mengetahui siapa capres yang akan dipilih oleh mereka. Apakah mereka terpengaruh oleh hasil-hasil lembaga survey yang selalu mengopinikan bahwa Jokowilah yang elektabilitasnya paling tinggi dan diprediksi akan menag?. Apakah pilihan mereka juga sama? ****************** Suatu pagi loper koran langganan mengantarkan koran ke rumah seperti biasanya. Hari itu saya membayar uang langganan bulanan. Sembari menulis kwitansi, dia bertanya kepada saya. Loper koran langganan: “Milih siapa nanti, Pak.” Saya: “Yang tegas, berani, dan berwibawa.” Loper koran: “Sama pak, saya juga pilih Prabowo.” Heran, padahal saya tidak menyebut nama lho, tapi kok tukang koran itu tahu saja. Selanjutnya dia menjelaskan kenapa dia memilih Prabowo. Alasanya mungkin naif bagi sebagian orang, tetapi itulah pandangan dia (tidak saya kemukakan di sini alasannya). **************** Suatu siang di kantor, ketika saya naik lift ke lantai empat, seorang pramukantor (OB) juga ikut di dalam. Dia sedang membawa sebuah majalah TEMP* edisi terbaru yang cover-nya menggambarkan capres yang disebut satria berkuda (Prabowo menunggang kuda). Majalah itu pesanan seorang teman yang meminta tolong kepadanya dibelikan di kios koran. Tertarik dengan cover majalah itu, saya pun iseng-iseng bertanya siapa “jagoannya”. Say: “Eh pak, nanti milih siapa, nih?” OB: “Yang ini pak” (sambil tangannya menunjuk gambar seorang satria berkuda di majalah TEMP* edisi terbaru). Saya: “Kenapa?” OB: “Tegas orangnya. Sekeluarga saya akan milih dia”. Apakah kebanyakan orang kecil di sekitarmu berpikiran sama dengan OB tadi? Artinya, ketegasan dan kewibawaan adalah pesona yang pertama dinilai mereka ketimbang visi dan misi, program, pencitraan, blusukan, apapun itu. Visi misi dan program mungkin hanya konsumsi yang orang-orang “pintar”, sedangkan bagi orang kecil seperti dia yang dilihat adalah sisi lain (ketegasan dan keberanian) yang selama ini mungkin tidak ada pada presiden sekarang yang dikenal peragu. ******************* Gas di rumah saya habis. Saya pun menelpon tukang gas langganan untuk mengantarkan gas ke rumah. Sembari dia memasang gas, naluri rasa ingin tahu saya pun muncul, sekadar ingin tahu saja. Saya: “Siapa jagoan mang waktu Pilpres nanti?” Tukang gas: “Ya Prabowo lah”. Mantap sekali dia menjawab. Dia sudah punya pilihan rupanya. Sepertinya orang-orang kecil itu sudah punya pilihan dan preferensi masing-masing, maka kampanye dan pemberitaan masif di media tentang seorang capres tidak punya pengaruh apa-apa pada pilihannya. ***************** Tadi pagi saya ngobrol dengan tukang tahu keliling yang selama ini mengantarkan tahu ke rumah. Saya pun iseng ingin tahu siapa capres yang ada dalam pikirannya. Saya: “Sudah punya jagoan di Pilpres nanti, Mang?” Tukang tahu: “Ah, belum. Nanti wae, tergantung siapa yang bisa menjanjikan yang menarik. Kalau bapak, siapa?”. Saya: “Prabowo” Tukang tahu: “Oh iya, saya juga mau milih yang itu”. Saya: “he..he..he” (rupanya mang tukang tahu malu-malu mau menyebutkan). ******************** Dari cerita-cerita di atas, saya menangkap kesan jangan-jangan banyak orang kecil di sekitar kita diam-diam punya pilihan ke satria berkuda. Mungkin saja kesimpulan saya tidak benar, mungkin saja perampatan (generalisasi) saya terlalu naif. Saya hanya memotret realita yang ada di sekitar saya. Sebagai pembanding, cobalah anda melakukan survey kecil-kecilan dengan bertanya kepada orang-orang kecil di sekitarmu, seperti pembantu, tukang ojek, mang becak, kuli bangunan, ibu-ibu arisan, dan lain-lain, kira-kira pilihan mereka condong kemana? Selama ini lembaga survey paling getol mengopinikan capres tertentu (Jokowi), seolah-olah capres inilah yang akan menang mutlak. Namun, berkaca dari hasil Pileg kemarin, ternyata Jokowi effect sama sekali tidak terbukti. Kemana silent majority yang selama ini tidak dibidik oleh lembaga-lembaga survey? Ternyata suara silent majority tidak bersesuaian dengan keinginan lembaga-lembaga survey itu. Apakah pada Pilpres 2014 nanti silent majority yang mayoritas masyarakat kecil akan mengambil pilihan berbeda dari yang selama ini diopinikan media dan banyak lembaga survey? Wallahu alam bissawab, kita akan melihat hasilnya pada tanggal 9 Juli nanti.